Butet, Guru Orang Rimba

Sokola Rimba

Saur Marlina Manurung nama antropolog itu. Sarjana lulusan Fisip Unpad ini, tidak cuma bergetar hatinya ketika mengenali betapa kaya keberagaman (baca: budaya) negerinya. Butet, begitu perempuan lajang ini biasa dipanggil, memotret sepotong NKRI yang musykil: masyarakat rimba yang bersahaja. Potret bidikan Butet adalah perihal pendidikan anak-anak di Bukit Duabelas, nun di pedalaman Jambi. Mereka biasa disebut Orang Rimba yang selama ini dikenal dengan sebutan Suku Kubu.

Buku yang tersusun berdasarkan catatan hariannya ini mengajak pembaca menyaksikan lebih dalam dunia kultural kita sendiri yang jauh dari hiruk-pikuk kapitalisasi. Buku ini memberikan apresiasi yang kuat terhadap kehidupan Orang Rimba dari seorang pengembara kemanusiaan yang juga sarjana sastraIndonesia, Butet, dalam kurun 1999-2003.

Muasal pengembaraannya, bermula dari pekerjaan pertamanya sebagai tenaga fasilitator pendidikan WARSI (Warung Informasi Konservasi ) di Jambi pada 1999. Dengan berbekal kesarjanaan bidang antroplogi dan sastraIndonesiaditambah pengalamannya pada organisasi ekstra Mapala, Butet mulai menapaki pekerjaannya sebagai pendidik.

Kita akan segera mendapatkan sosok Butet yang cukup fenomenal. Kerja keras dan dedikasinya terhadap masyarakat pedalaman (disebutnya sebagai Orang Rimba untuk menggantikan istilah Orang Kubu yang stigmatig) cukup membanggakan. Beberapa penghargaan diperolehnya, baik dari dalam maupun luar negeri: Man and Biosphere dari LIPI (2000), Woman of The Year dalam bidang pendidikan dari antv (2004), Heroes of Asia Award dari Majalah TIME untuk bidang konservasi (2004), KartiniIndonesiadari Departemen Pemberdayaan Perempuan (2005), dan Fellow Ashoka (2006). Tidak berlebihan bila dari beberapa perempuanIndonesiayang layak disebut sebagai pejuang, kita sisipkan Butet satu di antaranya. Sekalipun dengan rendah hati ia mengatakan dalam bukunya, pengalamannya berbagi bersama Orang Rimba ini, hanyalah pengalaman keseharian belaka. Tanpa embel-embel mentereng sebagai upaya mulia melakukan sebuah ”pendidikan” terhadap komunitas Orang Rimba.

Buku ini dapat dikategorikan ke dalam dua bagian. Bagian pertama, berisi tentang diskripsi-diskripsi berupa catatan harian. Sedangkan bagian kedua tentang pemikiran konseptual mengenai pendidikan yang dilakukannya, yaitu Sokola Rimba. Pada bagian pertama, kita mendapatkan gambaran mengenai kesulitan dan tantangan yang dihadapi Butet dalam berinteraksi dengan Orang Rimba. Apalagi, sesuatu yang terkesan ”ambisius”, mendidik dengan cara memberikan materi ajar yang menjadi tanggung jawabnya sebagai orang yang ditugaskan WARSI. Baginya, kesulitan-kesuitan yang dihadapi merupakan cambuk untuk tetap tegar: bertahan!

Tantangan menyangkut paradigma yang tumbuh di benak Orang Rimba adalah hal paling berat yang dihadapi Butet. Orang Rimba memegang teguh prinsip yang berlaku di kalangan mereka: sokola tidak ada dalam adat kami, kalu kami keno bala, yoya ketinye kamu nang bikin kami kedulat (hlm. 88). Artinya, sekolah tidak ada dalam adat kami, kalau kami dapat malapetaka karenanya, itu artinya kamu yang bikin kami kualat.

Rendah Hati

Kunci utama untuk memahami dunia orang lain adalah bagaimana kita bisa memandang apa yang mereka yakini sesuai dengan pemahaman mereka. Butet, untungnya, bisa melakukan cara pandang seperti itu. Penuh kerendahan hati, berempati, dan menunjukkan kepedualiannya ia hanyut belajar memahami budaya Orang Rimba. Pilihannya, berbaur dan membiasakan diri dengan kehidupan Orang Rimba tanpa menganggap sedikit pun bahwa dirinya lebih beradab. Itu yang menyebabkan Orang Rimba menghormati Butet. Karena Butet mau berguru kepada Orang Rimba.

Butet membuktikan kedekatannya dengan anak-anak: mengajak bermain, mengajarkan naik sepeda, menggambar bersama, bercerita, menjadikan Butet menjadi bagian dari mereka. Menuntun mereka mengenal dan menghafal nama-nama diri mereka, syair atau pantun asli Orang Rimba membuat anak-anak mengagumi dan menyanyangi Butet, sang guru. Butet, untuk itu, harus bersusah payah menuliskan dan menjelaskan setiap ciri khusus nama-nama mereka. Misalnya, Gentar, Linca, Mijak, Bekilat, Pengendum, Pemilang Laman, atau Peniti Benang.

Metoda tersebut akhirnya mampu mengantarkan Butet untuk dapat mengajar berhitung, membaca, dan menulis. Metoda itu dia gali dari Orang Rimba sendiri sehingga mereka familiar, tidak merasa asing dan digurui orang luar dan asing bagi mereka. Hal yang membuat Butet betul-betul dapat diterima selain metoda yang dipilih adalah menempatkan Orang Rimba sebagai subjek bukan objek. Aktualisasi kesetaraan itu diwujudkan Butet dalam keseharian: tidur berbaur dengan mereka; ikut berburu tikus, sama-sama menyantap bebi nangoy (babi hutan); pun berjalan puluhan kilometer untuk mengikuti pola berpindah Orang Rimba.

Sebenarnya, Orang Rimba menabukan seorang perempuan berjalan sendirian di kedalaman hutan. Tetapi, sebagai figur yang dihormati, Butet mendapatkan pengecualian. Toh, walaupun begitu, Butet masih sering was-was kalau tetap mendapatkan penolakan dari Orang Rimba terutama bila terjadi kemalangan seperti penyakit menimpa mereka. Betapa tidak, Orang Rimba selalu menghubungkan kemalangan yang menimpa dengan keberadaan pendatang di wilayah mereka.

*Fadjarini Sulistyowati, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi STPMD ”APMD”, Jogjakarta. Sumber: Pontianak Post, Minggu, 16 September 2007.

Pinterest
Rehal (book review)Permalink

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *


8 × enam =

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>