Jelang Ujian Nasional, Guru Belum Di Tempat

Sampai sekarang, guru-guru di SD INPRES Meto, Distrik Subur, Kabupaten Boven Digul, belum ada di kampung. Padahal, ini sudah mau Ujian Nasional tingkat SD. Anak-anak dan orangtua sementara ada tunggu dorang. Dengar-dengar, dalam waktu dekat dorang mau datang. Kalau begini terus, kitorang khawatir anak-anak bisa lulus atau tidak? Dari pengalaman tahun-tahun kemarin, banyak anak yang tidak lulus. Kalaupun ada yang lulus dan lanjut ke SMP, anak itu berhenti di tengah jalan karena minder dengan teman-temannya.

  • Lukas Kemon, warga Kampung Meto, Distrik Subur, Boven Digul.
Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in CITIZEN REPORTS, Education | Tagged , | Leave a comment

Lokakarya ‘Kajian Kritis Peraturan dan Kebijakan Investasi’

27-28 Mei 2014 – SKP KAME, bekerjasama dengan Yayasan Pusaka dari Jakarta dan PIL-Net (Public Interest Lawyers Network) menyelenggarakan Lokakarya Kajian Kritis Peraturan & Kebijakan Investasi Skala Luas. Kegiatan berlangsung di Susteran PBHK, Jalan Angkasa, Kelapa Lima, Merauke. Lokakarya difasilitasi oleh Norman Jiwan dari TuK (Transformasi untuk Keadilan) dan Wahyu dari PIL-Net Indonesia. Tercatat 22 orang ketua-ketua marga hadir sebagai peserta, berasal dari wilayah-wilayah adat Bupul, Baidup, Muting, Kindiki, Kweel, Torai, Erambu, Wayau, dan Okaba. Selain itu, 5 orang staf SKP KAME ikut juga sebagai peserta.

Tujuan lokakarya adalah untuk memutakhirkan (updating) informasi dan data terkini tentang perkembangan investasi skala besar di wilayah Merauke dan sekitarnya, mengidentifikasi masalah-masalah hukum yang ditimbulkannya di antara warga setempat dengan pihak perusahaan, serta merumuskan langkah-langkah tindak-lanjut advokasi di berbagai tingkatan (kabupaten, propinsi, nasional, dan internasional).

Dalam lokakarya ini, wakil-wakil masyarakat adat yang hadir meminta SKP KAME menjelaskan ‘Naskah Kesepahaman’ (Memorandum of Understanding, MoU) atau kontrak dan perjanjian antara mereka dengan pihak perusahaan dan pemerintah. Selain itu, mereka bersepakat agar SKP KAME menjadi pendamping mereka pada saat proses MoU atau kontrak disusun dan ditanda-tangani dengan berbagai pihak.**OW, HW

Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in External Networking, OUR ACTIVITIES | Tagged , , | Leave a comment

Pemantauan EKOSOB di Wilayah Paroki Persiapan Erom

14-18 Mei 2014 – SKP KAME melakukan pemantauan berkala keadaan ekonomi, sosial dan budaya (EKOSOB) umat di Paroki Persiapan Erom, Distrik Tana Miring, Merauke. Paroki Persiapan Erom memiliki umat 1.000 jiwa lebih, berasal dari beragam etnis: Papua (Marind, Muyu, Mandobo, Auyu, Mappi) , Flores (Maumere, Lio, Bajawa, Manggarai), Sumba, Jawa, Batak, Toraja, Kei, Tanimbar, dan lain-lain. Sebagian besar bermnata-pencaharian sebagai petani dan pekebun. Ada juga yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Saat berdiskusi dengan Pastor Peroki setempat, SKP KAME mendapat informasi bahwa tidak ada guru agama Katolik di SD INPRES Sermayam I, SMP Negeri 12, SMP Negeri 4 SATAP, dan SD Negeri Senayu. Bahkan, SMP Negeri 4 SATAP masih kekurangan guru. Hanya ada dua orang guru berstatus PNS yang aktif di sana.

Selain itu, status tanah di Kampung Soa-Senayu belum dilepas secara adat, sehingga menjadi masalah dalam pembangunan kampung. Dilaporkan bahwa Kepala Kampung Senayu tidak bekerja optimal, warga mengelukan berbagai program pemerintah yang masuk kampung (seperti PNPM Mandiri, RESPEK, dan GERBANGKU) tidak dikelola secara transparann.

SKP KAME juga mendengar bahwa PT. Anugerah Rejeki Nusantara (ARN) –yang merupakan anak perusahaan Wilmar Group– berencana untuk melakukan investasi di tanah adat warga Soa-Senayu. Ada juga masalah penyeleweangan RASKIN oleh oknum Bendahara Kampung Soa-Senayu.**KH, JNg

Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in Community Organizing, OUR ACTIVITIES | Tagged , , | Leave a comment

Tidak Ada Guru Agama

Di Kampung Ngguti Bob (Sermayam II) ada SD INPRES. Bangunan sekolahnya bagus, gurunya juga banyak. Hanya saja tidak ada guru agama Katolik. Kami berharap ada guru agama Katolik di SD INPRES Ngguti Bob, supaya pengetahuan agama anak-anak kami juga luas.

  • Alexander Kayun, Ketua Dewan Stasi Ngguti Bob, Distrik Ngguti, Merauke.
Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in CITIZEN REPORTS, Education, Public Services, Religious Affairs | Tagged , | Leave a comment

Ingin Menabung, Uang Habis untuk Kebutuhan Sehari-hari

Kami warga Kampung Soa-Senayu, terutama kami mama-mama (ibu-ibu, kaum perempuan -Red) yang berjualan di Pasar Mopah, Kota Merauke, tidak menabung uang kami di bank. Kami sebenarnya sangat ingin sekali menabung. Tapi uang kami tidak pernah cukup. Uang kami selalu habis untuk keperluan sehari-hari seperti untuk beli makanan dan ongkos anak-anak kami sekolah.

  • Agustina Totkan, villager of Soa-Senayu, Merauke.
Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in Opinion, READERS FORUM | Tagged | Leave a comment

Warga Tunggu Janji Perbaikan Jalan

Sudah beberapa kali ganti Bupati, kami usul ada perbaikan jalan dari Sermayam Indah sampai Sermayam Kampung. Waktu kampanye selalu janji akan perbaiki jalan itu, bahkan katanya tembus sampai pinggir Kali Maro. Tapi, sampai sekarang, jalan itu masih tetap seperti itu. Kalau hujan kami setengah mati. Kami punya anak-anak juga harus berkelahi lumpur untuk sampai ke sekolah.

  • Yustus Kundimku, warga Sermayam Kampung, Merauke.
Share
  • Facebook
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS
Posted in CITIZEN REPORTS, Infrastructure | Tagged , | Leave a comment